6 Alasan Para Pendaki Memilih Untuk Tidak Menggunakan Guide

Hai Sobat Muncak! Beberapa tahun terakhir kegiatan mendaki gunung menjadi semacam hobi bagi sebagian anak muda, terlebih bagi mahasiswa. Rasanya tidak afdol jika selama masa muda kita tidak dihabiskan dengan kegiatan yang bersifat alamiah atau menyatu dengan alam.

Saking banyaknya orang-orang yang menjadikan mendaki gunung sebagai hobi, beberapa pegiat alam yang lain memanfaatkan peluang ini dengan cara menawarkan diri sebagai guide (pemandu). Peran guide juga penting lho Sobat, dan kita juga sudah bahas kelebihan dan kekurangannya di artikel sebelumnya.

Disini kita tidak akan membahas kekurangannya lebih dalam, namun lebih membahas perspektif dari satu pandangan atas “mengapa orang-orang memilih untuk tidak menggunakan guide dalam pendakian” (wah sudah kaya rumusan masalah dalam Skripsi aja ya Sobat haha). Jadi perbedaan dari yang kemarin adalah subjek kita kali ini bukan pada guide nya, namun lebih pada orang-orang yang memilih untuk tidak menggunakan guide. Agar lebih mudah, orang-orang ini kita sepakati bersama untuk disebut sebagai Para Pendaki ya, Sobat.

6 alasan para Pendaki memilih untuk tidak menggunakan guide dalam pendakian:

  1. Mereka ingin mandiri dan suka tantangan

Sobat Muncak, alasan ini adalah alasan paling kuat dalam diri mereka mengapa melakukan pendakian tanpa guide. Para Pendaki ini ingin mandiri sehingga dalam hal ini mereka ingin menguji kemampuan dan ketahanan diri mereka, sejauh mana sih Para Pendaki ini bisa mendaki gunung tanpa bantuan dan arahan dari orang lain. Kalau bisa, Para Pendaki ini selalu memaksa diri mereka untuk “beyond their limits”. Meskipun begitu, alasan ini didasari oleh pemikiran orang-orang yang individualistik (serba pribadi). Para pendaki ini adalah suatu kaum yang selalu beranggapan “kalau bisa melakukannya sendiri, kenapa harus menggunakan guide?”. Kurang lebih seperti itu, Sobat.

  1. Mereka sedang tidak memiliki uang

Nah, kalau alasan yang ini pasti ada Sobat Muncak yang pernah mengalami haha. Para Pendaki tipe ini didominasi oleh kaum pelajar dan mahasiswa, dimana sumber pendapatan pas-pasan dan tidak menentu. Tidak menggunakan guide bagi mereka tidak berdosa, karena sebagian dari mereka pasti terdidik sehingga tau bagaimana teknik, sikap dan cara yang baik dalam mendaki gunung. Tipe Para Pendaki ini sangat cermat dalam menggunakan uang sesuai dengan kebutuhan, yang jelas-jelas hanya untuk keperluan logistik. Namun meskipun begitu, nyawa lebih berharga daripada harta ya Sobat, jadi gunakan uang tidak hanya untuk kepentingan perut tapi untuk keselamatan jiwa juga.

  1. Mereka memilih guide gratisan dari teman pecinta alam

Ya, guide sekarang memang dijadikan profesi sehingga dalam memakai jasanya harus berbayar. Para Pendaki dengan alasan tipe ini adalah orang-orang yang kreatif dan mampu melihat kesempatan. Nah, yang mereka gunakan bukanlah guide profesional yang memiliki sertifikasi guide, namun hanyalah teman atau rekan yang kebetulan memiliki passion di bidang alam dan pendakian Sobat, seperti mahasiswa yang menjadi anggota pecinta alam atau saudara yang bekerja di dalam tim rescue. Dengan beberapa trik dan negosiasi kultural, Para Pendaki tipe ini dapat memanfaatkan hubungan tersebut agar mau menjadikan teman dan rekannya itu sebagai guide “gratisan” dalam pendakian mereka. Haha patut dicoba, Sobat.

  1. Mereka sudah berpengalaman

Kalau alasan yang ini tidak perlu dijelaskan lagi ya, Sobat. Ya mau dijelaskan darimananya, kalau sudah berpengalaman? Dan buat apa Para Pendaki yang sudah berpengalaman kalau kemudian menyewa orang yang berpengalaman juga? Jeruk sewa jeruk dong haha. Justru harusnya tipe Para Pendaki yang sudah berpengalaman ini harus mentransformasikan diri menjadi guide. Tapi ingat, Para Pendaki ini jika mau jadi guide harus mendaftarkan diri ke APGI ya Sobat agar mendapatkan sertifikasi kerja sehingga dalam prinsip kerjanya menjadi legal dan diakui. Begitu, Sobat!

  1. Mereka tidak mendapati jasa Guide di daerahnya

Ingat Sobat, alasan ini dapat terjadi dengan catatan jika daerah Para Pendaki memang tidak ditemui profesi guide yang tersedia. Daerah ini biasanya memang terpencil, sulit dijangkau dengan transportasi umum dan gunung yang di daki memang kurang terkenal. Contoh daerahnya adalah daerah Para Pendaki yang berada di luar pulau Jawa. Di kondisi semacam itu guide memang jarang sekali Sobat. Warga yang berada di kaki gunung yang seharusnya berpeluang menjadi guide pun tidak mau dijadikan sebagai guide, karena kurangnya kemampuan Bahasa dan komunikasi mereka terhadap orang baru (warga yang biasanya menggunakan Bahasa daerah).

  1. Mereka merasa tidak perlu Guide

Nah, alasan yang terakhir ini sangat terjadi bagi Para Pendaki yang memiliki dua kondisi, Sobat. Jadi:

  • Pertama, Para Pendaki sudah pernah mendaki gunung tersebut. Jika pertama kali naik gunung tersebut Para Pendaki sudah menggunakan guide, kemungkinan besar pendakian kedua dan seterusnya tidak akan menggunakan guide. Dan itu wajar, Sobat!
  • Kedua, gunung tersebut memang sangat mungkin untuk mampu didaki oleh Para Pendaki meskipun belum pernah didaki oleh mereka. Biasanya gunung ini jarak pendakiannya pendek, waktu tempuhnya sebentar dan ketinggiannya kurang dari 3000 mdpl, seperti gunung Andong, gunung Prau, dsb.
Baca Lainnya:   6 Jenis Liburan Alam Yang Patut Sobat Coba

 

Sobat Muncak, itulah beberapa yang sudah dijelaskan tentang 6 alasan Para Pendaki tidak menggunakan guide dalam pendakian. Meskipun tidak menggunakan guide, yang terpenting tetap utamakan keselamatan dalam pendakian ya Sobat. Dan yang paling utama, jadikan hati kita sebagai guide bagi diri sendiri, percaya dan yakin bahwa Sobat Muncak bisa dalam menaklukkan segala macam halangan rintangan, termasuk dalam pendakian. Semangat, Sobat!

 

Pic from: http://www.yukpiknik.com/artikel/semeru/

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *