Ancaman Kecelakaan Pendakian, Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Indonesia memiliki pemandangan alam yang luar biasa indah. Gugusan pulau dengan deretan gunung membentang, menghiasi bumi Indonesia. Keindahan yang membuat kita berdecak kagum dan penuh rasa syukur menjadi rakyat Indonesia. Berbagai macam kegiatan outdoor pun dilakukan untuk dapat menikmati keindahan alam Indonesia. Salah satu yang sedang menjadi tren sekarang adalah mendaki gunung. Sejumlah 314 deretan gunung yang menjaga bumi Indonesia, menjadi tantangan sendiri bagi para pendaki untuk bisa menapakkan kakinya di atas puncak. Meski mendaki gunung bukan merupakan olahraga extreme lagi, namun tidak sedikit orang yang menghembuskan nafas terakhirnya ketika melakukan aktivitas ini. Alam menyimpan potensi berbagai bahaya. Ada dua faktor yang menyebabkan timbulnya bencana, yaitu faktor subyektif dan obyektif.


Bahaya Subjektif adalah potensi bahaya yang berada di bawah kendali pendaki (baca : manusia) yang melakukan pendakian. Misalnya pemilihan alat yang salah atau bahkan lupa tidak membawa alat, tidak punya pengetahuan menggunakan alat dengan benar, pemilihan jenis perjalanan yang kurang tepat. Kesalahan fatal yang paling sering dilakukan oleh para pendaki adalah meremehkan dan melanggar prosedur peraturan yang sudah ditetapkan oleh pihak pengelola gunung (baca : taman nasional). Banyak kasus kecelakaan di gunung yang berakhir dengan hilangnya nyawa para pendaki disebabkan oleh hal ini. Contoh, kasus mahasiswa UPN Yogyakarta yang tersesat di Gunung Slamet. Mereka melanggar prosedur peraturan, karena saat itu jalur pendakian sedang ditutup, mengingat aktivitas gunung yang berstatus waspada. Mereka tetap melanjutkan pendakian tanpa melapor ke pos pendakian, sehingga mereka tidak memiliki ijin pendakian. Kemudian kasus yang tidak kalah heboh adalah terjatuhnya seorang mahasiswa Atma Jaya ke kawah Gunung Merapi. Hanya untuk berfoto selfi dia harus rela kehilangan nyawanya. Padahal sudah jelas tertulis bahwa batas aman pendakian hanya sampai Pasar Bubrah. Masih banyak kasus yang terjadi di setiap aktivitas pendakian.

Selain bahaya obyektif, bahaya objektif ialah potensi bahaya yang berada di luar kendali manusia, misalnya badai, banjir, suhu dingin, longsor, dll. Tidak sedikit kasus meninggalnya para pendaki yang disebabkan oleh hipotermia (turunnya suhu tubuh secara drastis). Faktanya, gunung memiliki suhu, tekanan udara, dan kandungan oksigen yang rendah. Cuaca di gunung relatif tidak stabil, hujan, badai, kabut setiap saat bisa datang menyerang. Ditambah lagi dengan kondisi lereng yang sangat curam dan eksploitasi hutan, menjadikan tanah di gunung berpotensi longsor. Hal-hal demikian berpengaruh terhadap persiapan alat-alat yang dibutuhkan dalam aktivitas pendakian. Selain itu, pengetahuan dasar tentang survival dan cara bertahan hidup juga harus menjadi skill wajib yang harus dimiliki oleh para pendaki.

Baca Lainnya:   Menikmati keindahan Sabana Merbabu via Suwanting

Persiapan yang matang adalah kunci untuk meminimalkan terjadinya kecelakaan. Betapa sia-sianya kehilangan nyawa karena hal-hal yang seharusnya masih bisa ditanggulangi. Alam tidak bisa ditentang, apalagi ditakhlukkan. Apa yang bisa kita lakukan? Kita masih bisa berusaha untuk menyesuaikan diri dengan alam, bahkan kondisi ekstrim sekalipun. Berawal dari persiapan yang matang, kita berdaya.

Muncak menghadirkan aplikasi untuk memudahkanmu mempersiapkan pendakian dengan aman. Segera subscribe email kamu di www.muncak.id. Bersama kami, dapatkan pengalamanmu mendaki gunung yang lebih menyenangkan!

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *