Berani Hidup

Sekilas judul di atas seperti judul sebuah artikel motivasi bagi orang-orang yang mudah menyerah, putus asa dan cemen menghadapi hidup. Orang-orang yang memandang sempit arti hidup. Seorang pecundang yang menjadikan kematian sebagai pelarian dari berbagai masalah hidup. Apapun artinya tidak menjadi masalah, selama itu positif dan bermanfaat.

Gunung memang menawarkan banyak keindahan, karenanya banyak orang yang rela bersusah payah menyusuri berat dan sunyinya jalur pendakian menuju puncak. Setiap hari matahari terbit dan tenggelam di tempat yang sama, namun para pendaki ingin melihatnya dari tempat yang berbeda (sudut yang lain).

Awan tak pernah meninggalkan langit, setiap orang tahu itu. Setiap orang yang  mendongakkan kepalanya menghadap langit, pemandangan awan selalu setia menghiasi. Tapi mengapa masih banyak orang yang menginginkan lebih dari itu, mereka ingin berdiri di atas lautan awan.

Kemudian mengabadikannya dalam lukisan digital oleh kamera-kamera mereka. Apakah hanya untuk pengakuan diri dari orang-orang yang tidak mereka kenal di media sosial.

Masih banyak tempat  indah selain di Gunung yang dapat menjadi background foto. Kenapa mereka lebih memilih Gunung. Apakah ingin dikatakan sebagai orang kuat?, Apakah ingin dikatakan sebagai seorang pecinta alam?. Orang yang peduli lingkungan?.  Apapun motivasinya  selama itu masih dipengaruhi oleh “kata orang”. Selama itu pula mereka akan berada dalam kebingungan dan tidak akan pernah menemukan tujuan disetiap langkah perjalanan hidupnya. Kisah hidupnya selalu ia rangkai dengan “kata orang begini” dan “kata orang begitu”.

Gunung bukan tempat yang tepat dijadikan alasan untuk keegoisan manusia. Sudah banyak kejadian para pendaki hilang, pendaki tersesat yang berujung pada kematian. Pendaki jatuh ke jurang, pendaki meninggal karena kedinginan. Sampai kapan, kejadian ini akan terus terjadi dan berulang-ulang terjadi. Memang perkara kematian itu bagian dari takdir manusia. Hal yang berada diluar kuasa manusia, hanya Tuhan yang berkuasa atas masalah ini. Tapi bukan berarti manusia hanya bersikap pasif dan tidak berusaha untuk bertahan hidup. Jangan sampai kita mati konyol, hanya karena disebabkan oleh kebodohan dan kecerobohan kita.

Hal yang berpotensi dialami oleh pendaki pemula dalam pendakian adalah tersesat di Gunung. Banyaknya jalur yang bercabang, ditambah rimbunnya rumput yang menumbuhi jalur pendakian terkadang membuat pendaki bingung dan salah memilih jalur.

Baca Lainnya:   10 Fakta yang Wajib Kamu Ketahui Tentang Merbabu

Akhirnya medan yang sulit dan membahayakan menjadi tantangan yang harus mereka hadapi. Setiap pendaki professional pasti pernah tersesat, karena sebelum menjadi professional mereka pun pernah menjadi seorang beginner.  Kalian tentu ingat dong dengan kata-kata para motivator, bahwa “setiap kesuksesan pasti diawali dengan kegagalan”. Maka, jika tersesat adalah kegagalan yang dilakukan oleh setiap pendaki, jangan sampai kegagalan tersebut juga mengakhiri hidup kita.

Minimnya pengetahuan tentang pendakian dan survival terkadang juga membuat mereka tidak bisa kembali ke jalur dimana mereka mulai tersesat. Alih-alih mau kembali, justru malah semakin jauh tersesat. Itulah yang sering terjadi dan akhirnya menyulitkan tim SAR dalam upaya evakuasi. Itu pun jika pendaki yang hilang adalah pendaki resmi (mendapatkan ijin resmi melalui basecamp pendakian), tapi bagaimana jika pendaki yang tersesat adalah pendaki illegal (tidak melapor atau melalui basecamp pendakian). Sebuah cerita yang saya dapatkan dari teman, dia pernah ikut dalam pencarian korban hilang di Gunung Sindoro. Dia bercerita bahwa ketika dia melakukan pencarian korban tersebut, Dia menemukan kerangka manusia yang secara fisik seperti wanita dan kira-kira sudah meninggal 3 bulan yang lalu. Dan itu tidak termasuk korban yang mereka cari. Hal ini bisa jadi, berita-berita pendaki hilang yang sering kita lihat dan dengar melalui media masa maupun media sosial, hanyalah sebagian kecil dari banyaknya kejadian yang tidak terliput oleh media.

Kepanikan dan kehawatiran ketika tersesat seharusnya diimbangi dengan keberanian untuk terus bertahan hidup. Disamping itu “sedia payung sebelum hujan” juga harus kita lakukan. Hal yang sifatnya bisa diantisipasi dari awal, hendaknya kita siapkan sebaik mungkin. Namun, jika persiapan sudah matang, akhlaq dan etika selama mendaki kita baik, dan prosedur pendakian juga sudah kita lengkapi, tapi masih juga tersesat. Entah itu karena jalannya yang tidak jelas atau mungkin karena kabut dan badai yang menyerang. Berusahalah untuk tetap tenang dan berfikir logis untuk bisa bertahan hidup, minimal sampai tim penyelamat datang menjemput. Dan jangan lupa untuk tetap berdoa, karena Tuhan adalah sumber harapan setiap manusia.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *