Gunung Bukanlah Tempat Sampah

 

Mendaki gunung sekarang ini sudah menjadi trend baru dikalangan masyarakat, bukan hanya Indonesia bahkan masyarakat dunia. Pendakian tidak hanya dilakukan oleh anak-anak pecinta alam, masyarakat awam pun sekarang tergila-gila melakukannya. Akhir pekan dan musim liburan merupakan jadwal rutin pasar dadakan di gunung. Hal ini tentu memiliki dampak positif dan negatif.

 

Dampak positifnya, lapangan pekerjaan bertambah, anggaran pendapatan daerah pun bertambah. Hal ini jelas sangat membantu pemerintah dan masyarakat sekitar basecamp jalur pendakian. Akan tetapi, dampak negatif yang ditimbulkan pun tidak bisa dianggap remeh. Gunung yang dahulu hutannya asri penuh ketenangan, kini berubah menjadi pasar yang penuh keramaian. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan hal ini, selama kita bisa menjaga sikap untuk tidak merusak alam. Alangkah tidak nyamannya ketika sampah menjadi pemandangan yang selalu menghiasi sepanjang jalur pendakian. Rumput dan semak tidak lagi berwarna hijau, namun putih, karena banyaknya tissue yang berserakan diatasnya. Etika mendaki gunung “Jangan tinggalkan apapun kecuali jejak” seakan hanya menjadi kata-kata bijak seremonial. Kata itu hanya diucapkan sebagai rutinitas yang minim kualitas, hampa tanpa makna.

Bertanya tentang siapa yang bertanggung jawab atas kebersihan gunung tentu bukanlah jawaban. Merasa membayar, lalu membuang sampah sembarangan tentu bukan sikap yang dibenarkan. Merasa memiliki, kemudian ikut menjaga kelestarian ekosistem alam itulah yang seharusnya dilakukan. Berhenti untuk menyalahkan dan acuh kepada orang lain. Lebih baik mengingatkan langsung pendaki yang membuang sampah sembarangan, dari pada hanya membicarakannya dibelakang.  Sebaliknya, pendaki yang diingatkan pun harus berterimakasih untuk itu, dan sadar bahwa tindakannya itu salah. Bukannya malah marah dan bersikap sok jago.

 

Semua orang merasa risih dan jijik ketika melihat sesuatu yang kotor. Bersih, rapi, harum adalah fitrah kenyamanan manusia. Namun sayangnya kebanyakan orang hanya ingin menikmati kenyamanannya saja, tanpa mau ikut berproses membuat kenyamanan tersebut. Gunung bukan tempat main anak-anak manja kawan. Ia adalah guru kehidupan.

 

Manusia dihormati ketika ia memiliki harga diri dan kehormatan. Luasnya ilmu dan santunnya akhlaq adalah kehormatan manusia. Maka jangan pernah merusak kehormatan itu dengan sikap egois dan tidak bertanggung jawab. Jika kita tidak mampu membawa sampah kita kembali turun, lebih baik kita diam saja di rumah.
Baca Lainnya:   6 Tokoh Politik Indonesia yang Diam-Diam Gemar Mendaki

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *