Kemerdekaan di Puncak Gunung tak Sekedar Eksistensi Diri

Musim kemarau tiba, itu artinya sekarang saat yang cocok buat melakukan pendakian. Meskipun cuaca di gunung sering kali menghianati musim. Tidak jarang kita disapa hujan, disaat musim kemarau dan dibakar teriknya matahari dimusim penghujan. Hal itu merupakan kejutan-kejutan yang sering dihadiahkan alam kepada tamunya (baca : pendaki). Bulan Agustus ini selain menjadi pembukan musim kemarau juga memiliki moment berharga bagi kita bangsa Indonesia. Apalagi jika bukan memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia. Proklamasi Kemerdekaan bangsa Indonesia yang dikumandangkan tepat tanggal 17 Agustus 1945 merupakan momen bersejarah yang hingga kini terus dikenang dan diperingati oleh segenap rakyat Indonesia. Mengibarkan bendera merah putih di iringi dengan lantunan lagu Indonesia Raya adalah rankaian acara inti dalam memperingati hari kemerdekaan. Tidak hanya di sekolah-sekolah dan kantor-kantor dinas pemerintah saja yang mengadakan upacara kemerdekaan ini. Seluruh rakyat Indonesia pun dengan penuh rasa suka cita ikut melakukan upacara ini.

Setiap jengkal tanah Ibu Pertiwi yang terbentang dari Sabang hingga Merauke pun menjadi tempat terindah untuk melakukan upacara. Salah satu tempat favorit untuk melakukan upacara bendera adalah di puncak gunung. Entah apa yang menjadi motivasi dari upacara di puncak Gunung, apakah untuk mengenang pengorbanan para pahlawan. Jika memang hal itu yang menjadi alasan, semoga kita tidak larut dalam kenangan. Namun dapat segera bangun untuk mengisi kemerdekaan ini. Para pahlawan terdahulu telah berjuang merebut kemerdekaan dari para penjajah. Jiwa dan raga mereka korbankan demi Ibu Pertiwi.
 
Jika setiap generasi menyadari peran dan fungsinya dalam mengisi kemerdekaan, tentu kesejahteraan akan mampu dirasakan oleh seluruh rakyat Indonesia. Generasi muda Indonesia merupakan aset berharga yang dimiliki bangsa ini. Tanah Surga yang digambarkan dengan “ tongkat kayu dan batu jadi tanaman” tidak akan ada artinya jika kita tidak bisa mengelolanya dengan baik. Kekayaan alam Ibu pertiwi hanya menjadi permainan bangsa asing, yang di eksploitasi sesuai keserakahan mereka. “Tikus mati di lumbung padi” ungkapan pepatah tersebut kiranya sesuai untuk menggambarkan bagaimana kondisi rakyat Indonesia saat ini. Bagaimana mungkin Indonesia yang terkenal dengan Negara Agraris, namun kebutuhan berasnya masih impor dari Negara lain. Terkenal sebagai Negara Maritim, tampaknya hanya menjadi dongeng masa lalu, yang tertulis indah dalam syair “nenek moyangku seorang pelaut”. Namun kita belum bisa mengolah hasil laut dan pantainya, seperti ikan, pasir besi, pasir silica dan kekayaan laut lainnya.
 
Matahari dari ufuk timur masih bersinar dan menghangatkan bumi Indonesia. Hari esok masih ada untuk memberikan harapan dan merubah masa depan. Bangkit dan songsonglah kemerdekaan sejati. Kemerdekaan yang dapat dirasakan oleh seluruh rakyat Indonesia, bukan hanya dinikmati oleh elit politik yang rakus. Menyibakkan tirai kesewenang-wenangan dan memancarkan sinar keadilan. Demokrasi benar-benar menjadi sistem pemerintahan yang mewujudkan kedaulatan rakyat.

Menapaki terjalnya batu, menembus rimbunnya rimba yang diselimuti oleh dinginnya kabut. Berdiri tegap dibawah sang saka merah putih, dalam naungan cakrawala nusantara. Ibu pertiwi, begitu indah dan eloknya engkau. Alam-Mu menggambarkan kesempurnaan ciptaan-Nya. Semoga prosesi upacara di gunung bukan hanya sekedar formalitas dan rutinitas namun lebih dari itu, dia mampu menanamkan karakter dan mental pahlawan. Generasi muda tidak hanya terbuai dengan fantasi yang dibuat olah bangsa asing. Namun ia juga mampu berkontribusi dalam membangun Indonesia.

Salam cinta kami pendaki gunung untuk Ibu Pertiwi.
Baca Lainnya:   Hiking vs Trekking

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *