Keuntungan Mendaki Saat Bulan Puasa

Halo Sobat Muncak. Bagaimana kabar Sobat di bulan yang suci ini? Semoga tetap kuat menjalankan ibadah puasa dan selalu semangat mengejar amalan-amalan baik ya.

Sobat pernah kepikiran nggak untuk mendaki di saat bulan puasa? Pasti nggak pernah ya. Alasannya karena ya mungkin bulan puasa lebih baik melakukan amalan yang berguna seperti shalat, tadarus, sunnah, mengikuti majelis pengajian, dan sebagainya karena tidak menguras fisik yang berlebih. Tapi asal Sobat tau bahwa ada sebagian pendaki yang melakukan pendakian saat bulan Ramadhan.

Mungkin bagi beberapa pendaki professional yang sudah memiliki jam terbang tinggi tidak akan heran dengan pendakian di saat puasa, karena mereka pasti sudah mahir tentang bagaimana survive selama berjam-jam bahkan berhari-hari dengan makan dan minum seadanya, atau mungkin tanpa makan dan minum. Namun bagi kita (yang mana hanya pendaki biasa), pendakian di bulan Ramadhan justru akan terdengar tak lazim bahkan gila karena melakukan aktifitas fisik yang besar di saat orang-orang lagi lemas-lemasnya.

Pertanyaan yang muncul di benak kita sebagai pendaki biasa pasti begini: “apa sih untungnya mendaki di bulan puasa?”. Oke, daripada berlama-lama Tim Muncak.id akan menguraikan keuntungan mendaki saat bulan puasa.

  • Lebih mendekatkan diri kepada Tuhan

Ya, pasalnya memang ketika kita berada di suatu ketinggian pasti kita akan lebih dekat menuju ke atas dan Yang di atas. Ketinggian bahkan membuat sebagian dari kita berusaha untuk berhati-hati dan waspada, karena suatu yang tinggi dapat jatuh ke tempat yang rendah juga. Itu juga berlaku saat kita menaiki pesawat terbang. Jadi selalu mengingat Tuhan adalah hal yang patut dilakukan ketika berada di ketinggian.

  • Bisa mengambil hikmahnya

Sudah puasa, berada di bulan yang suci, mendaki gunung pula. Siapa yang mampu? Ya siapa aja yang bisa hehe. Mendaki saat puasa itu ibarat seperti orang miskin yang sedang mendapatkan ujian hidup, contoh katakanlah fitnah dunia. Bayangkan, jadi orang miskin itu saja udah ujian, apalagi ditambah ujian yang lain. Maka dari itu, hikmah mendaki saat puasa adalah agar kita selalu bersyukur dengan kondisi kita dan dapat merasakan seperti apa yang mereka rasakan, meskipun hanya melalui suatu pendakian.

  • Menguji kemampuan diri

Terkadang kita juga perlu mencoba untuk mengetes sejauh mana kemampuan kita di suatu keadaan yang tidak pernah kita lakukan, seperti mendaki di saat puasa ini. Contohnya ketika biasanya kita di bulan-bulan biasa dapat melakukan pendakian di gunung dengan durasi 4 jam, di bulan Ramadhan ini apakah durasinya lebih lama atau bahkan lebih cepat. Nah, hal-hal yang seperti itu patut dicoba Sobat, meskipun lama durasi bukanlah suatu patokan dalam kemampuan pendaki.

  • Dapat merasakan ibadah di ketinggian

Melakukan ibadah di gunung adalah suatu kegiatan rohani yang hakiki lho Sobat. Kapan lagi coba bisa shalat dan ngaji di ketinggian ribuan meter di atas permukaan laut kalau tidak di gunung? Udah tinggi banget, makin dekat dengan Tuhan, mendakinya saat bulan Ramadhan, beribadah lagi. Ya sebenarnya bisa sih melakukan ibadah saat kita naik pesawat terbang, tapi kan nilai usahanya kan lebih besar saat kita di gunung kan Sobat. Jadi beruntunglah kalian yang sudah merasakan ibadah di gunung.

  • Mampu mengontrol diri dari emosi dan hawa nafsu

Hal ini juga sudah diamanatkan oleh Kiai dan Ustad kepada kita sebagai umat Islam bahwa puasa itu harus tahan dari segala emosi dan hawa nafsu, karena semua itu bagian dari syetan. Nilai tersebut juga berlaku saat kita melakukan pendakian saat bulan Ramadhan lho Sobat. Biasanya dampak yang sering terjadi adalah ketika kita sudah capek. Apa saja dampaknya? Bisa jadi mengumpat karena gak sampai-sampai puncak, bisa jadi nafsu karena pengen cepet sampai puncak. Dengan puasa, dampak-dampak seperti itu bisa kita hindari.

  • Menghindari untuk mengajak dan diajak mendaki lawan jenis

Sobat, ada yang pernah mendaki rombongan rame-rame dan salah satunya ada lawan jenis? Sepertinya sudah pernah ya. Nah untuk bulan Ramadhan yang suci ini, sebaiknya tidak disarankan untuk melakukan pendakian dengan lawan jenis, baik mengajak ataupun diajak. Daripada menimbulkan fitnah yang tidak-tidak, lebih baik mengajak yang sesama jenis dan mau diajak oleh yang sesama jenis. Tapi ingat, itu semua berlaku untuk lawan jenis Sobat Muncak yang belum muhrim ya. Kalau yang sudah sah dan muhrim mah bebas, hehe.

  • Merasakan pendakian yang sangat tenang

Sobat Muncak pasti tau kalau di hari-hari akhir pekan pasti banyak anak muda dan mahasiswa yang melakukan pendakian, terlebih kalau hari-hari nasional dan hari libur seperti Hari Kemerdekaan, Hari Gunung Nasional, malam tahun baru, atau liburan semesternya para mahasiswa. Ini sangat berbeda ketika kita berada di bulan Ramadhan. Para maniak hits gunung dengan aesthetic nya tidak ditemui. Dengan begini, kita dapat keuntungan yakni bisa merasakan pendakian dengan tenang, sehingga khusyuk pada dua hal: mendaki dan puasa.

  • Sebagai pengalaman dan cerita kelak

Karena jarangnya para pendaki yang mendaki gunung saat bulan Ramadhan, maka Sobat Muncak sebagai agent of change nya bangsa (ceilah) dapat melakukannya. Apa untungnya? Yakni sebagai cerita kepada teman, anak dan cucu di masa depan bahwa kita dulu pernah melakukan apa yang orang biasa tidak biasa lakukan. Entah kita tidak tau apakah nanti orang-orang semakin kuat atau semakin lemah, paling tidak kita mempunyai bekal cerita yang layak untuk diceritakan.

Baca Lainnya:   Pendaki Remaja Tersesat Selama 3 Hari Di Merbabu

 

Nah, itulah beberapa keuntungan mendaki saat puasa. Segala sesuatu yang tidak mungkin dilakukan pasti bisa dilakukan, asal ada niat. Orang-orang yang berpikir tentang rencana yang kita lakukan itu mustahil dan cukup gila, yakin saja bahwa yang kita rencanakan adalah benar. Mendaki saat puasa kan tidak berdosa. Toh tidak ada ruginya untuk mereka. Justru malah ketika disana ada keuntungan yang bisa diambil, mereka harusnya merugi hehe.

But anyway, tetap positive minds and vibes ya Sobat Muncak. Bulan Ramadhan bukan untuk mengatakan siapa yang benar dan salah, tapi bulan Ramadhan adalah bulan untuk berbagi kebaikan dan berlomba mencari berkah Tuhan Yang Maha Esa.

Salam Lestari!

 

Profile picture from: Irul Tamiran’s Instagram https://www.instagram.com/irultamiran/

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *