Melestarikan Puspa dan Satwa Guna Peringati HCPSN

Keindahan ciptaan Tuhan termasuk puspa dan satwa di muka bumi ini patut kita syukuri. Terdapat banyak sekali jenisnya seperti, burung Kakak Tua, Bunga Rafflesia, Badak Jawa, Panda dan masih banyak yang lainnya. Hari terus berlalu, zaman terus berubah tanpa kita sadari keberadaan puspa dan satwa menjadi semakin langka dan nyaris punah. Hal ini tidak terlepas dari aktivitas manusia yang melakukan perdagangan liar satwa, penebangan hutan tempat habitat puspa dan satwa, adanya perburuan liar dan masih banyak lagi. Ketika itu semua terjadi dan jika masih terjadi, akan semakin menyulitkan puspa dan satwa untuk tumbuh dan berkembang biak. Seperti pada Penyu Sisik (Eretmochelys Imbricate) yang merupakan satwa langka yang dapat dijumpai di tanah air. Hewan tersebut semakin terancam keberadaannya karena aktivitas manusia yaitu kawasan pesisir yang semakin rusak menyulitkannya mendapat tempat untuk bertelur.

Penyu Sisik

Penyu Sisik, salah satu satwa langka di Indonesia (Sumber: update.ahloo.com)

Perlu diketahui Sobat Muncak, puspa dan satwa Indonesia memberikan kontribusi 40% untuk ekonomi dunia dan sebanyak 80% kebutuhan masyarakat berasal dari puspa dan satwa yang dapat dimanfaatkan secara tradisional untuk pangan, pakaian, energi, dan lain sebagainya. Dalam sektor pertanian dan kedokteran sangat mengandalkan puspa dan satwa yang menjadi aset keanekaragaman hayati dari sebanyak 20.000 spesies tanaman yang dimanfaatkan untuk obat-obatan. Salah satu contohnya adalah Umbi Takka atau kecondang (Tacca Leontopetaloides) merupakan salah satu tumbuhan bermanfaat yang bisa ditemukan di Indonesia. Dengan pengolahan yang baik, pati dari Kecondang atau Umbi Takka ini dapat dimanfaatkan sebagai bahan makanan juga obat bagi penderita disentri, diare dan busung lapar.

Berangkat dari keadaan tersebut pemerintah turut prihatin sehingga pada 5 November dijadikan sebagai Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional (HCPSN). Kali pertama diperingati adalah pada masa pemerintahan Presiden RI yaitu Soeharto yang berdasarkan pada Kepres Nomor 4 tahun 1993. Sudah dua puluh empat tahun sampai sekarang HCPSN berbagai program terus dilakukan pemerintah untuk menyelamatkan, melindungi serta merawat puspa dan satwa Indonesia. Memperingati HCPSN memberikan kita penyadaran tentang pelestarian dan pemanfaatan keanekaragaman hayati termasuk puspa dan satwa secara adil, merata dan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat. Adanya upaya konservasi untuk mendukung pemanfaatan secara berkelanjutan dengan melaksananakan konservasi Spesies dan Ekosistem yang terdiri dari konservasi In-situ seperti pengelolaan Cagar Alam, Suaka Margasatwa, Taman Nasional maupun konservasi Ex-situ seperti Kebun Raya, Kebun Binatang, Taman Safari dan Taman Keanekaragaman Hayati.

Baca Lainnya:   Pendaki Remaja Tersesat Selama 3 Hari Di Merbabu

Melalui Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional (HCPSN) semoga kita semua dan Sobat Muncak nantinya dapat ikut serta menjaga, menyelamatkan, merawat puspa dan satwa dari kepunahan. Setiap 5 November yang diperingati sebagai HCPSN dapat menjadi momentum untuk kita semua dengan berbagai upaya nyata dalam bentuk kebijakan dan program baik pada tatanan nasional maupun daerah yang tetap menyatu pada tujuan awal sebagai penyelamat puspa dan satwa nasional dari ancaman kepunahan. Akan tetapi untuk mencapai tujuan tersebut Sobat Muncak tidak perlu menunggu tindakan pemerintah terlebih dulu. Berbagai hal kecil dan sederhana dapat dilakukan misalnya dengan menyirami tanaman saat kemarau. Tidak membuang sampah dilaut saat berwisata ke pantai agar biota laut kita tetap terjaga habitatnya dan masih banyak yang dapat dilakukan. Mudah bukan? Yuk Sobat Muncak kita lestarikan puspa dan satwa di bumi nusantara sebagai penyangga kehidupan bersama.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *