Naik Gunung dan Puasa

Kalau dilihat dari judulnya, mungkin aneh. Emang ada ya hubungan antara puasa dengan naik gunung?? Atau ada yang naik gunung sambil puasa?? Hebat bener. Namun bukan hal itu yang kali ini ingin saya sampaikan. Saya ingin mengutarakan pendapat saya tentang sedikit kesamaan antara puasa dan naik gunung.
Kita semua pasti setuju kalau naik gunung itu bukan hal yang mudah, akan tetapi mengapa banyak orang yang rela meninggalkan kenyamanan di rumahnya hanya untuk mendaki gunung yang dingin, terjal dan terkadang kejam. Para pendaki rela meninggalkan rumahnya yang hangat ke dalam tenda kecil yang dingin. Mereka rela meninggalkan hidangan lezat yang tiap hari disantapnya dengan secuil gula jawa dan seteguk air. Bahkan mereka rela dan siap menyerahkan hidupnya di alam liar gunung yang terkadang tidak mempunyai belas kasihan. Pertanyaan-pertanyaan tersebut hanya akan bisa dijawab oleh orang yang pernah naik gunung. Ada yang mengatakan bahwa dengan naik gunung kita bisa mengetahui siapa diri kita sebenarnya. Ada juga yang beranggapan bahwa dengan naik gunung kita bisa lebih mendekat kepada Allah SWT.
 
Banyak orang beranggapan bahwa kemampuan fisik merupakan syarat utama ketika mendaki gunung. Menurut saya, syarat utama yang paling penting diatas fisik adalah mental. Sekuat apapun fisik kita, jika mental kita mlempem, tidak akan bisa bagi kita untuk menaklukan gunung itu. Sebaliknya jika fisik kita pas-pasan, namun mental kita kuat dan yakin bisa menjangkaunya, maka kita akan bisa mencapai puncak gunung meski dengan langkah tertatih dan nafas tersengal.
Kesamaan Ibadah Puasa dan Naik Gunung
Trus apa dong persamaan puasa dan naik gunung??? Seperti yang telah saya jelaskan, bahwa hal terpenting dalam mendaki adalah mental, begitupula dengan menjalankan ibadah puasa. Namun mental berpuasa dan mendaki ada sedikit perbedaan meskipun intinya adalah sama. Mental dalam menjalankan ibadah puasa tentunya berhubungan dengan kadar keimanan seseorang. Semakin kuat iman seseorang, tentunya semakin kuat pula mentalnya dalam menjalankan ibadah kepada Allah SWT yang dalam hal ini adalah berpuasa.
Mampu tidaknya kita ketika berpuasa dan menjalankan aktivitas seperti hari biasa bukan ditentukan dari seberapa banyak makanan yang kita makan saat sahur. Saya yakin teman-teman setuju dengan hal tersebut. Meski memang benar jika dengan makan sahur, maka energi kita akan bertambah untuk beraktivitas, namun bukan hal itu sebenarnya yang bisa menjaga puasa kita. Tidak sedikit anak-anak muda bahkan orang tua yang makan sahur dengan kenyang, namun akhirnya tidak berpuasa. Mengapa?? karena imannya (mental) tidak kuat. Sebaliknya, banyak saudara kita yang sahur seadanya bahkan hanya meneguk segelas air putih, mereka mampu menjalankan ibadah puasa dengan khusuk. Mengapa??? karena iman mereka kuat, dan mereka melakukan semua itu hanya karena Allah SWT semata.
Begitulah sedikit pendapat saya tentang puasa dan naik gunung. Jika ada pihak yang kurang setuju saya mohon maaf, karena saya hanya ingin menuangkan apa yang saya pikirkan dala bentuk tulisan tanpa ada maksud-maksud tertentu. Oiya, ada tambahan lagi, kepuasan saat sampai di puncak gunung sama juga dengan kepuasan saat kita berbuka puasa. Selamat menjalankan Ibadah di Bulan Suci Ramadhan, bulan yang penuh berkah ini. Semoga kita dapat menjadi pribadi yang lebih baik.

Ditulis oleh : Palabas Pecinta Alam Bebas
Baca Lainnya:   6 Merek Tas Gunung Recommended Asli Indonesia

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *