Pendaki Remaja Tersesat Selama 3 Hari Di Merbabu

Halo Sobat Muncak. Beberapa hari yang lalu tepatnya pertengahan bulan Mei ini dunia pendakian Indonesia sempat diberitakan oleh tersesatnya pendaki dari rombongannya. Memang sering ya Sobat berita seperti ini muncul di telinga kita sehingga terasa bosan, namun berita seperti ini alangkah baiknya jadikan sebagai pelajaran dan ambil hikmah yang dapat di ambil.

Baiklah. Jadi rombongan pendaki ini berasal dari Ngetak Mulyo 3, Kuto Winangun, Salatiga. Mereka mendaki gunung Merbabu melalui jalur Cunthel, Kopeng, Getasan, Kabupaten Semarang. Infonya, pendaki yang tersesat ini terdiri dari dua orang yang mana keduanya berumur 16 tahun. Sobat, 16 tahun itu cukup muda lho untuk menjadi seorang pecinta alam.

Kedua remaja yang tersesat ini adalah Prima Angga Wahyu Setiawan dan Inggil Pangestu. Semua rombongan (termasuk kedua korban) berangkat dari daerahnya Salatiga sekitar pukul 16.00 WIB. Begini kronologinya Sobat:

  1. Rombongan pendaki masuk melalui jalur pendakian Dusun Cunthel, Desa Kopeng, Kabupaten Semarang, pada hari Sabtu (13/5/2017) sekitar pukul 19.30 WIB. Rombongan tersebut berjumlah 12 orang.
  2. Rombongan tersebut sampai di Pos III Gunung Merbabu pada pukul 24.00 WIB. Mereka memutuskan untuk mendirikan tenda dan melanjutkan pendakian pada keesokan paginya.
  3. Pada pagi harinya, Minggu (14/5/2017) mereka memutuskan untuk memulai pendakian pada jam 10.00 WIB. Dua orang diantaranya tidak melanjutkan pendakian dan memilih untuk menjaga tenda, sehingga yang melanjutkan pendakian ada 10 orang.
  4. Sekitar pukul 11.30 WIB rombongan yang terdiri dari 10 orang tersebut sampai di Pos IV dan memutuskan beristirahat.
  5. Satu jam kemudian sekitar pukul 12.30 WIB rombongan kembali melanjutkan pendakian menuju Pos V sekaligus untuk mencari sumber air. Namun karena sepanjang perjalanan tidak menemukan sumber air, mereka kemudian berjalan ke arah pemancar dan berhenti di sebuah batu besar.
  6. Saat yang lain berhenti, kedua korban Angga dan Inggil ini tetap melanjutkan perjalanan ke pemancar. Sesaat kemudian 8 orang pendaki menyusul Angga dan Inggil menuju ke pemancar, namun sesampainya di pemancar Angga dan Inggil tidak ditemukan. Demi memastikan, 8 orang menuju arah Pos Tekelan untuk melihat keberadaan Angga dan Inggil. Namun 8 orang ini juga tersesat karena tidak tahu jalur tersebut.
  7. Sekitar pukul 14.00 WIB rombongan mendengar teriakan dari jauh di sekitar jalur Tekelan, “Hee aku kesasar (Hee aku tersesat),” teriak seseorang yang diduga Inggil. “Aku yo kesasar, balio munggah (aku juga tersesat, kembalilah naik),” jawab Bayu, orang yang tertua dari rombongan pendaki tersebut.
  8. Namun setelah itu, tidak ada respon lagi dari Inggil dan Angga dalam waktu yang cukup lama. Cuaca yang berkabut tiba-tiba kemudian membuat rombongan memutuskan untuk kembali ke jalur Cunthel dan berjalan menuju Pos III tempat dimana tenda didirikan dan 2 orang yang lain beristirahat.
  9. Setelah 10 orang berkumpul di Pos III, mereka tetap menunggu selama 1 jam dengan harapan Angga dan Inggil akan datang. Namun Angga dan Inggil tak kunjung datang juga. Sembari berteriak memanggil Angga dan Inggil dan berkemas barang, rombongan menuliskan pesan kertas di Pos III yang berisikan info hilangnya 2 korban.
  10. Karena tidak ada tanda-tanda korban akan datang, akhirnya rombongan ini memutuskan untuk turun menuju Basecamp Cunthel. Sesampainya di Basecamp sekitar pukul 19.00 WIB, mereka melaporkan kejadian tersebut ke petugas.
Baca Lainnya:   Pemandu Gunung, Penting Ngga Sih?

Setelah Basecamp Cunthel menerima laporan adanya tersesatnya pendaki gunung di Merbabu, pihak Basecamp memanggil SAR untuk bersama melakukan pencarian. Tim SAR langsung mengkoordinasikan diri dan membentuk menjadi 8 regu untuk dilakukan pencarian pada esok harinya, Senin (15/5/2017).

Hari Senin tiba, tim langsung melakukan pencarian kolektif di sepanjang jalur yang dilalui korban. Namun sampai Senin malam Tim SAR juga belum kunjung menemukan hasil. Sehingga pencarian akan dilanjutkan pada hari berikutnya, Selasa (16/5/2017). Pencarian hari Selasa akan dibantu Polisi Resort Boyolali dalam pendeteksian ponsel korban dan dilacak lokasi terbarunya.

Hari Selasa tiba, akhirnya Angga dan Inggil ditemukan di sekitar jalur Tekelan pada pukul 09.15 WIB. Kedua korban waktu itu sedang berada di tanah miring dekat jurang, sehingga Tim SAR membantu kedua korban menggunakan alat. Angga ditemukan masih sehat, namun Inggil ditemukan dalam keadaan kurang baik karena banyak luka di tubuhnya. Kedua korban lantas dibawa Tim SAR ke bawah untuk diberikan pertolongan medis.

 

Nah, begitulah kira-kira kronologinya Sobat. Menganggapi kejadian tersebut, Tim Muncak.id cukup prihatin mengingat ada rombongan pendaki Gunung Merbabu tersebut masih belum cukup umur atau katakanlah remaja. Sebagaimana kita tahu bahwa remaja masih memiliki gejolak yang luar biasa, kontrol emosi yang belum stabil dan ego yang sangat tinggi. Remaja juga adalah peralihan psikologis menuju dewasa, sehingga keputusan-keputusan yang diambil seorang remaja kadang tidak sematang orang dewasa.

Lalu bagaimana agar kita tidak tersesat dari rombongan? Mudah, ada 2 tips Sobat:

  1. Turunkan ego. Kalau kita berada dalam sebuah teamwork, kita tunjukkan juga toleransi dan kekompakan kita terhadap tim. Jangan jadikan ego sebagai kemenangan diri. Kalau sudah egois, wah bubar sudah. Pasti ada yang terpisah dari rombongan, Sobat.
  2. Ikuti perintah atau komando dari yang paling tua atau yang berpengalaman. Sobat, ada dua adab hormat yang sering kita temui, yakni pada orang yang lebih tua dan pada orang yang lebih berilmu/berpengalaman. Adab tersebut memang benar adanya dan sebaiknya diterapkan kepada kita sehingga kita tidak akan bertindak semena-mena dalam pendakian.

Dengan begitu, kita akan menikmati pendakian secara utuh tanpa ada anggota yang terpisah. Sobat, tujuan naik gunung bukanlah untuk puncak semata, namun tujuannya adalah aman dan selamat sehingga ketika di bawah kita dapat berbagi cerita kepada yang lain. Bayangkan jika kita (ya amit-amit lah Sobat, semoga tidak ya) sakit kritis atau bahkan meninggal di gunung, berapa banyak orang yang menangisi kita karena kita pulang hanya dapat membawa nama bukan membawa cerita.

Gunung dapat menjadi sahabat sekaligus dapat menjadi pengancam nyawa lho Sobat, tergantung bagaimana sikap dan perilaku kita saat di gunung. Oleh karenanya, disarankan tetap bersikap dan berperilaku baik sehingga kita aman dan selamat. Salam lestari!

 

Profile picture from: http://tersapa.com/seribu-satu-keindahan-merbabu-via-wekas/

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *