Sindoro In Memoriam

Ditulis oleh Maulida Illiyani

Luar Biasa ditempat biasa-biasa saja, atau biasa-biasa aja ditempat luar biasa.

 

Kali ini perjalanan kalang kabut nan membabi buta, haha… tanpa joging, tanpa peralatan, hanya modal rindu. Malam itu pendakian sindoro bersama 15 orang yang sebagian adalah entah siapa, ah…, nanti seiring berjalannya waktu bersama tetesan peluh dan kami saling berbagi air serta menyemangati pasti kenal😀. Love u gunung…, selalu membuat kami menjadi teman, karna kami sependeritaan atau bahasa tegar nya “kami satu perjuangan”.
Ah banyak dialog, dialog yang menyenangkan, yang kadangkala membuat lupa diri bahwa nafas tinggal satu-satu, haha…, tertawa  bersama itu memang menyingkirkan siksa, mungkin istilahnya, inilah Kekuatan hati yang mengalahkan kekuatan fisik. Jadi naik gunung itu, asal semangat insya-allah nyampe puncak, walau pelan. PELAN………… bgt!(haha)
Mendaki itu belajar toleransi, belajar saling menjaga hati, belajar menjaga semangat, tidak menggebu karna terjal diatas masih sangat banyak😀. Belajar menipu diri bahkan, “Ora anyep”, “Ora pegel”, smua…, semua kenyataan yang dirasakan badan adalah tipuan “kata kami disetiap langkah”, hah…., wajah menjadi begitu keras, korban debu belerang sepertinya, akhirnya perempuan lupa pada face toner atau sunscreen kala ini (ntr sampe bawah teriak-teriak, mukaku pecah2) ah…, teriakan klasik.
Puncak…, hah.sesaat! Solat berjamaah kala itu, moment amazing yang kami rasakan. Terharu di titik tertinggi dataran itu, selanjutnya tinggal foto bersama dengan tulisan puncak dan hitungan matematis MDPL, huft…, akhirnya menghela nafas lagi, turun tak lebih ringan daripada naik. Ya…, haha…, Turun…. Turun… Dari Puncak Gunung… Pegel… Pegel,….. Sekali… senandungku lirih sambil memijit dengkul yang mulai bergoyang.
Aih…, naik gunung, kemudian turun gunung, ya…. hidup. inilah hidup ada bertemu, ada berpisah, ada lahir ada mati, bahkan ada ADA lalu tiada. Ritme…, yaps… belajar menikmati ritme, dan menikmati setiap detik (kata mb yan pas dulu turun dari sumbing, akhirnya turunnya lama……. bgt)haha.
Kawan……, banyak hal yang saya peroleh dari salah satu proses hidup yang saya pilih kali ini. Bukan Tentang Mendaki lalu mencapai puncak, tapi ini tentang turun, turun dari kepuasan akan ambisi menuntaskan puncak di sebuat titik bumi, dan setelah itu kembali ke dataran, lalu apa….. 

Tidak semua orang yang mendaki gunung, harus menjadi aktifis alam, tidak semua orang yang mendaki harus menjadi pejuang illegal loging…. silahkan kalian turun.., dan jadilah diri sendiri. Tapi jangan pernah lupakan kawan.., bagaimana tanah-tanah basah di gunung itu rela kita injak tanpa melawan, hanya demi memberikan kita kesempatan untuk melapangkan hati, untuk menenangkan tatapan mata dari kepenatan kota, jangan lupakan debu yang menempel mesra di wajah-wajah kita, yang membuat kita menyatu dengan alam, jangan lupakan pohon yang tetap tumbuh tanpa pamrih, ia kokoh menopang bahkan meneduhkan kita dari panas. AH… kalian.., ayolah jadi diri sendiri, diri sendiri yang bermanfaat dimanapun itu, tapi jangan pernah melupakan alam yang mengajarkan untuk memberi tanpa pernah berharap apapun. Mereka lapang dan damai…:)

Baca Lainnya:   Asupan Makanan Yang Harus Dibawa Pendaki Saat Puasa, Apa Saja?

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *