Summit Merapi vs Batas Aman Pendakian di Pasar Bubrah

 

“Stop!! Berhenti di Sini, Batas Aman Pendakian”, tertulis pada plang peringatan di sekitar Pasar Bubrah, Gunung Merapi. Masih segar diingatan kita berita tentang meninggalnya Eri yunanto, Mahasiswa fakultas teknik Universitas Atmajaya Yogyakarta setelah selfie di Puncak Garuda, Gunung Merapi. Berita yang sempat heboh media sosial (khususnya di Indonesia) pada pertengahan tahun 2015 lalu. Setidaknya dari peristiwa itu banyak pihak yang melakukan evaluasi dan perbaikan. Salah satunya adalah dari pihak pengelola Gunung Merapi.
 
Setelah kejadian itu pihak pengelola Gunung Merapi menegaskan kembali peraturan, bahwa batas aman pendakian Gunung Merapi hanya sampai Pasar Bubrah, peraturan yang sudah ada sejak dulu (nggak tau pastinya kapan). Hal ini diberlakukan untuk menghindari jatuhnya korban lebih banyak lagi, seperti Eri Yunanto. Hendaknya peristiwa yang dialami oleh Eri Yunanto bisa menjadi pelajaran yang berharga bagi para pendaki dan calon pendaki (maklum, sekarang mall sudah pindah ke gunung dan pantai). Tidak selayaknya kita bersikap egois hanya karena mengharap pujian dari orang lain. Bayangkan betapa banyak orang yang dirugikan dengan sikap egois ini. Bagaimana perasaan keluarga, saudara, dan sahabat yang tinggalkan. Bagaimana perjuangan tim SAR untuk menemukan dan menaikkan jenazah dari kawah Merapi. Bagaimana perasaan orang tua yang tidak bisa tidur karena memikirkan keadaan putra-putrinya yang sedang merantau keluar kota untuk kuliah, karena menyaksikan berita tentang peristiwa ini di TV.
Apakah like, comment di Instagram itu sebanding dengan nyawa kita?.  Apakah arti hidup ini begitu remeh dan sederhana, sehingga kita rela mati dengan sia-sia?. Kebijaksanaan bersikap harus lebih dikedepankan dari pada hanya mengharapkan kesenangan semu dan hanya sesaat terasa. Meskipun tidak dapat dipungkiri bahwa salah satu kebutuhan manusia yang mendasar adalah ingin diakui eksistensinya oleh orang lain. Betapa menderitanya seseorang, meskipun ia memiliki banyak harta, berpangkat dan berkedudukan, namun dimata masyarakat ia tidak dianggap. Ada dan tidaknya Dia tidak berpengaruh di masyarakat. Maka mengaktualisasikan diri dengan karya nyata itu sangatlah penting, seperti apa yang pernah dikatakan oleh Chairil Anwar “Sekali berarti, kemudian mati”. Bukannya malah “sekali selfie, kemudian mati”. Boleh selfie, tapi keselamatan tetap menjadi prioritas utama.

Puncak tidak pernah membuktikan apapun, merasa jago dan kuat itu hanya perasaan kita saja. Bersikap nekat lalu menjadikan keselamatan sebagai tumbal tentu merupakan sikap yang konyol. Hal itu tak ubahnya seperti anak kecil yang bergaya di depan orang tuanya, hanya demi mendapatkan pujian, “Hebatnya anak mama….” Begitu halus dan lembutnya hati manusia, sehingga sifat sombong seringkali hadir tanpa kita menyadarinya. Menyadari batas kemampuan diri dengan berbagai proses yang kita alami selama pendakian itulah yang penting. Karena hidup ini tak selalu indah seperti di film-film. Terkadang kita merasa sedih, kadang bahagia, dan tak jarang kesedihan dan kebahagiaan hinggap di hati yang sama dalam waktu yang sama. Bahasa para motivator “keluar dari zona nyaman”.

Alam tidak pernah meminta kita untuk mengunjunginya. Namun kitalah yang hendak berkunjung dan jumpa dengannya. Sebagai seorang tamu hendaknya kita bersikap sopan kepada tuan rumah, karena jika tidak, tuan rumah tidak akan segan-segan mengusir kita. Oleh karena itu, melanjutkan ke puncak Merapi atau cukup menikmati pemandangannya dari Pasar Bubrah bersama secangkir kopi panas, mana yang Kamu pilih?.

Baca Lainnya:   Gunung Marapi Erupsi, Pendaki Ini Berhasil Mengabadikan Momen

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *