Tips Mendaki Gunung Sendiri

Berjalan berjam-jam di tengah malam yang gelap dan dingin. Menyusuri terjalnya jalur pendakian. Banyak orang mempertanyakan apa yang kita cari. Tapi jawaban berupa “kata” tak akan pernah memuaskan, sampai mereka mencoba untuk melakukan apa yang kita lakukan ini. Ibarat makanan, bagaimana kita akan menjelaskan rasanya?. Hal yang paling sederhana untuk menjawabnya adalah memberikan makanan itu kepada orang yang bertanya, biarkan dia merasakannya sendiri. Bagi kalian yang memiliki pertanyaan ini dan belum menemukan jawabannya, silahkan mendaki. Temukan jawabanmu sendiri, temukan teman-teman baru.

Melakukan pendakian umumnya dilakukan secara berkelompok. Disamping nyaman juga aman. Kita bisa saling menjaga dan berbagi barang bawaan yang tidak sedikit tentunya. Namun ternyata tidak sedikit orang yang memilih untuk melakukan pendakian seorang diri (solo hiking). Apapun alasannya, yang jelas pendakian solo lebih besar resikonya.

Namun jika itu adalah pilihanmu, maka lakukanlah. Kalo kata iklan rokok sih “Make it your journey”,(Upsss….ini bukan promosi lho). Tapi harus ingat, keselamatan tetap menjadi prioritas utama. Berikut adalah tips buat kalian yang ingin melakukan pendakian solo untuk mengurangi resiko.

1. Tentukan dan kenali tujuan dengan baik
Tujuan adalah hal yang harus kita tentukan diawal. Bagaimana mungkin kita melakukan sesuatu tanpa memiliki tujuan. Jika tujuan itu masih samar, tidak jelas. Kemungkinan besar, kita tidak akan sampai kemana-mana, hanya diam saja di rumah. Maka sebelum kalian melakukan pendakian, harus jelas dulu tujuan kalian kemana. Informasi tentang lokasi dan kondisi tujuan harus sudah sering kalian kepo-in. Kalian bisa browsing-browsing di Internet atau ikut nimbrung di forum-forum pendakian yang sudah banyak tersedia di media social. Tanyakan apa yang perlu kalian ketahui, jangan sampai malu bertanya, menyesal kemudian.

2. Beritahukan rencana pendakian pada orang lain
Kita memang tidak pernah berharap untuk tersesat, atau hilang dalam pendakian. Tapi potensi itu tetap mungkin terjadi. Maka pastikan sebelum kalian melakukan pendakian, beritahukan rencana itu kepada orang-orang yang anda percaya, seperti keluarga, sahabat, dan yang pasti orang-orang pengelola basecamp. Beritahukan lokasi tujuan kalian, kapan akan berangkat dan kapan akan kembali pulang. Sehingga apabila terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan, ada orang-orang yang tanggap untuk mencari dan menyelamatkan kalian.

3. Lewat jalur yang ramai dilalui pendaki
Di Indonesia banyak sekali gunung-gunung yang bisa kita daki. Tapi ingat, semua gunung memiliki pesonanya sendiri. Kalo boleh meminjam bahasa Al-Qur’an sih, “ setiap kesulitan, pasti ada kemudahan”. Jika di gunung “ setiap kesulitan, pasti ada keindahan”. Tapi bukan berarti kita harus memilih gunung yang sulit untuk di daki, karena kalo kita mau jujur semua gunung itu sulit untuk di daki. Hanya saja tingkat kesulitannya yang berbeda. Maka jika kita hendak melakukan pendakian solo, sebaiknya pilihlah jalur yang banyak dilalui oleh para pendaki. Supaya kalo ada hal yang tidak kita harapkan terjadi, ada orang yang diharapkan bisa membantu (minimal melaporkan ke pihak basecamp).

4. Pilih waktu liburan
Biasanya waktu-waktu libur sering dimanfaatkan para pendaki untuk melakukan pendakian. Apalagi bagi mereka yang sudah sibuk dengan rutinitas harian, seperti sibuk pekerjaan, sibuk kuliah, dll.  Waktu libur menjadi waktu yang sangat ditunggu-tunggu. Bahkan mungkin jauh-jauh hari, tanggal merah di kalender-kalender mereka sudah dilingkari dan dituliskan nama-nama gunung. Maka pilihlah waktu-waktu libur, supaya masih berjumpa dengan manusia selama pendakian (nggak cuma lihat pohon dan rumput aja…hehe).

Baca Lainnya:   Menikmati keindahan Sabana Merbabu via Suwanting

5. Bersahabatlah dengan pendaki lain
Saling sapa dan saling bantu adalah kebiasaan yang akan selalu kalian temukan di pendakian. Pertanyaan yang sangat populer, ” Dari mana ?”, seringkali menjadi pembuka percakapan. Meskipun terkesannya monoton dan tidak inovatif, faktanya kata itu cukup efektif untuk menjalin tali silaturrahmi antar pendaki. Sebaik apapun kita mempersiapkan pendakian, tetap saja kita ini makhluk sosial yang masih membutuhkan orang lain. Ingatlah peribahasa, “siapa yang menanam, merekalah yang akan memanen”. Jika kita bersikap baik kepada orang lain, orang itu pun akan bersikap baik kepada kita.

6. Persiapankan fisik dan mental
Pendakian solo menuntut kita bersikap mandiri dan tidak bergantung pada orang lain. Karena mau minta tolong sama siapa coba, orang kita hanya mendaki sendiri. Maka persiapkan fisik dan mental dengan sebaik mungkin. Persiapkan untuk kemungkinan terburuk yang bisa terjadi. Meskipun hanya jogging atau sepedaan, luangkanlah waktu untuk bisa berolahraga. Ibadahnya juga harus ditambah, supaya bukan fisik saja yang kuat, tapi mentalnya juga ok.

7. Persiapankan alat dan logistik dengan cerdas
Para pendaki itu identik dengan tas carrier besar yang menempel dipunggung. Sebenarnya bukan soal besar atau kecil, tapi lebih kepada kelengkapan alat yang dibawa. Kalo bisa satu alat memiliki banyak fungsi itu lebih baik, contoh multitools yang bisa dipake buat sendok, pisau, garpu, senter, obeng, dll. Jadi usahakan alat yang dibawa sedikit tapi sudah bisa mencukupi semua kebutuhan selama pendakian. Tenda yang dibawa tidah perlu yang berukuran besar, yang penting cukup nyaman untuk kita sendiri. Alat-alat tidur seperti sleeping bag, matras, kaos kaki, kaos tangan, kupluk  jangan sampai lupa dibawa. Logistik yang dibawa pun lebih banyak, tapi jangan banyak banget. Kira-kira cukup dan tidak memberatkan selama perjalanan.

8. Kenali batas kemampuan kalian
Jangan pernah memaksakan diri. Kalian hanya mendaki sendiri jadi nikmati perjalan aja, lagi pula puncak tidak akan pindah kok. Atur nafas, atur langkah dan waktu istirahat. Mendaki dengan ritme yang cepat akan sangat beresiko menyebabkan kaki kalian kram dan keseleo. Jika memang sudah tidak kuat, jangan memaksakan diri untuk melanjutkan perjalanan ke puncak. Lebih baik pulang dengan selamat, daripada harus celaka. Lagi pula kita masih bisa mencobanya lain waktu.

9. Berdoa
Setiap orang hanya bisa berusaha, Tuhanlah yang menentukan. Maka berdoalah agar pendakian yang kita lakukan mendapatkan ridho-Nya. Mintalah pertolongan Tuhan, karena Dia-lah satu-satunya harapan yang dimiliki oleh orang beriman. Semoga bermanfaat, salam lestari!
Pendakian, Gunung Andong, Merbabu, Suwanting, Merapi, Slamet, Sindoro, Sumbing, Prau, Lawu, Semeru, Arjuno, Raung, Rinjani, solo hiking.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *