Turis Asing Mendominasi Pendakian Di Bulan Ramadhan

Sobat Muncak, tau nggak bahwa turis asing itu sangat kagum juga tertarik dengan kekayaan alam dan budaya yang kita miliki. Oleh karenanya banyak diantara turis asing berlomba-lomba terbang menuju Indonesia untuk melihat dan merasakan langsung indahnya alam dan budaya kita.

Terlebih dengan alam, turis asing sangat tertarik dengan alam kita karena cuacanya yang tropis. Ya bagaimana tidak, mereka (yang notabene penduduk negara-negara di utara garis khatulistiwa) sangat jarang merasakan panasnya matahari secara langsung yang menyengat. Dengan di Indonesia, mereka dapat menjemur badan sepuasnya di bawah terik matahari demi kebutuhan pigmen kulit.

Mendaki juga salah satu kegiatan favorit dari turis saat di Indonesia. Bagi mereka, yang berbeda dari mendaki gunung di Indonesia adalah ketika terbitnya matahari. Mengapa? Karena golden sunrise di Indonesia sangat indah. Berbeda dengan negara-negara mereka yang kebanyakan di Eropa, sunrise disana terlihat biasa saja karena matahari tidak sepenuhnya hilang saat terbenam sehingga tidak menimbulkan kesan sunrise yang benar-benar muncul (dari bawah).

Turis asing mendominasi pendakian di bulan Ramadhan, kok bisa ya?

Dari pantauan Tim Muncak.id di berbagai sumber, turis asing yang melakukan pendakian saat bulan Ramadhan itu bukan serta merta karena bulan Ramadhan sendiri, namun karena memang bulan-bulan liburan yang mereka dapati selalu berpapasan dengan bulan Ramadhan. Lebih lanjut lagi, bulan-bulan tersebut adalah bulan Mei sampai bulan Juli, yang mana bulan tersebut adalah bulan-bulan Ramadhan bagi umat Islam di beberapa tahun terakhir ini (antara 2012 sampai 2017 ini).

Para turis yang melakukan pendakian kebanyakan dari beberapa negara di Eropa, seperti Perancis, Jerman, Inggris dan Norwegia dan satu negara di selatan khatulistiwa yakni dari Australia. Libur yang mereka dapati adalah liburan panjang juga liburan sekolah. Seperti halnya kita, sebagian besar mereka memanfaatkan liburan untuk pulang kampung. Namun ada juga yang memanfaatkan libur untuk benar-benar liburan, baik itu berlibur di dalam maupun ke luar negeri (termasuk ke Indonesia).

Di tahun 2016 saja, data statistik pendaki di Gunung Merapi menunjukkan bahwa pendaki turis asing lebih banyak dibanding dengan pendaki lokal. Selama bulan puasa di tahun tersebut, ada 50 lebih pendaki turis asing dan 30 pendaki lokal yang mendaki Gunung Merapi. Namun demi keamanan dan kenyamanan, para pendaki saat bulan Ramadhan disarankan titik pendakian maksimal hanya sampai Pasar Bubrah saja.

Baca Lainnya:   5 Gunung Pemandangan Sabana Terunik di Jawa

Juga untuk Gunung Rinjani, para guide disana tetap melayani pendaki yang ingin melakukan pendakian meskipun di bulan Ramadhan. Hasilnya, pendaki turis asing bahkan beberapa kali lipat lebih banyak jumlahnya dibanding dengan pendaki lokal. Data pada bulan Juli 2012 menunjukkan bahwa ada 87 pendaki lokal dan 625 pendaki turis asing yang telah melakukan pendakian Gunung Rinjani.

Fenomena menurunnya jumlah pendaki lokal ini memang selalu terjadi di bulan Ramadhan. Kenapa bisa gitu? Ini dikarenakan biasanya pendaki lokal tidak mendaki gunung saat bulan Ramadhan, dengan alasan berpuasa (ya meskipun ada sebagian kecil pendaki lokal yang mendaki saat bulan Ramadhan). Kegiatan pendakian oleh pendaki lokal pun cenderung sepi, begitu juga dengan suasana gunung. Dan sepinya gunung ini kemudian dimanfaatkan oleh sebagian turis asing untuk mendaki gunung-gunung yang ada di Indonesia.

Tidak hanya di gunung lho Sobat, turis asing juga memanfaatkan sepinya suasana wisata perairan. Ramadhan tahun lalu pengelola wisata Pulau Sabang mengakui bahwa jumlah wisatawan turis asing meningkat dari bulan-bulan biasanya. Para turis asing melakukan diving dan snorkeling sepuasnya karena para wisatawan lokal cenderung tidak ada dengan alasan sedang berpuasa juga. Namun turis asing ini sudah paham dan tetap menghormati Sabang sebagai daerah yang menerapkan syariat Islam. Jadi ketika warga sedang shalat maka mereka berhenti sejenak dari aktifitasnya.

Memang Sobat, para turis asing memanfaatkan liburan mereka dengan sangat maksimal. Mereka rela pergi jauh-jauh dari negaranya dan menghabiskan ongkos yang banyak hanya untuk menyegarkan kembali pikiran mereka dari rutinitas sehari-hari. Yang patut kita tiru adalah semangat mereka dalam mengeksplorasi dunia. Karena dunia itu luas, karena hidup cuma sekali. Maka berusahalah kita dalam berkarya agar dapat pergi merasakan kehidupan di luar sana.

Salam Lestari!

 

Profile picture from: http://mtrinjanitrekking.com/rinjani-trekking-package-for-3-days-2-nights/

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *